Texas Hold'em Rules Size_Indonesia Lottery Official Website_Casino platform registration

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bandar judi utama eropa

Terakhir namun bukan akhir, kamu layak sekali untuk berbahagia. Meski hatimu menuntut sebuah pengisian, kamu tak lantas terburu-buru lagi. Kamu memikirkan semua dengan begitu matang. Bagimu, bahagia tak sepatutnya memaksa. Tertawalah dalam balutan do’a, meski hatimu pernah tercabik. Kamu layak untuk bahagia.

“Harapan yang besar, diikuti oleh rasa kecewa yang sepadan”

Seperti biasanya, kamu tertawa, kamu hangout, kamu menjalani seluruh aktivitasmu seperti biasa. Pesonamu juga tak pudar, kamu benar-benar kembali seperti dulu, meski tak sepenuhnya. Lantas banyak yang mendekatimu, kamu menerima hadirnya mereka seperti seharusnya. Hanya saja seharusnya itu adalah pertemanan.

Kamu bisa dibilang seseorang yang kuat, kegagalanmu mungkin saja fatal. Tapi secepat itu kamu bisa bangkit, itu hebat. Fisik bisa nampak, tapi psikis tentunya tak banyak yang tau, bahkan diri sendiri. Apa jadinya jika ternyata kamu rapuh, sungguh rapuh. Kamu mencoba mengingkarinya.

Kamu merasa semua usahamu sia-sia. Ingatlah ini, semakin besar harapanmu semakin besar rasa kecewamu. Cobalah terima kenyataan. Hubungan kalian telah berakhir, tapi tidak dengan hidupmu. Waktu akan terus berjalan tanpa menunggumu. Meski mungkin kamu harus merangkak seperti anak bayi, lakukan. 

Menghabiskan waktu bersama, berbagi canda tawa, suka duka. Ketika tiba saat berpisah, seakan semua kenangan itu menguap. Yang ada hanya kebencian. Setiap langkahmu seakan membawamu kembali padanya, seperti roda yang berputar di satu tempat.

Hari-harimu masih berlalu seperti biasa, kamu masih berjalan di atas bumi. Kamu masih tertawa ketika sahabatmu membuat lelucon. Kamu masih menyukai es krim dan coklat favoritmu. Kamu benar-benar bangkit, kata mereka. Yang tak pernah kamu atau orang lain sadari. Perlahan hatimu membeku, hatimu mengeras tanpa kamu minta. Pengalamanmu membuatnya begitu. Tak mengapa, bukan salahmu.

Ketika sahabatmu memamerkan kemesraan di depanmu, kamu tak merasa iri. Kamu tersenyum seperti biasa. Bagimu itu hal yang lumrah, status jomblomu tak mengusikmu sama sekali. Hal ini membuat sahabatmu merasa tak enak hati. Mereka mengkhawatirkan dirimu, sedang kamu? Jauh didalam hatimu kamu juga mendambakan kasih sayang. Kamu ingin merasakan debar cinta lagi. Kamu ingin merasakan manisnya ucapan selamat pagi. Tapi kamu terlalu takut. Sekali lagi tak mengapa, bukan salahmu.

Tuhan tak pernah meninggalkan umat-Nya dalam keadaan apapun, terlebih dalam keadaan terpuruk. Dirimu yang merasa cinta pada manusia merupakan tujuan awalmu, mulai perlahan menyadari kesalahanmu. Sujud-sujudmu taklagi berisi tangisan, munajatmu tak lagi tentang pengharapan cinta. Dalam barisan do’a yang kamu lantunkan, berisi rasa syukur akan hidup yang kamu dapatkan. Memang sepatutnya seperti itu.

Cinta itu ibarat pisau dengan sisi yang tajam, berani bermain pisau, harus siap tersayat. Sayangnya kadang luka itu begitu menyayat, membuat kita tak sekedar patah hati. Sering kali menangis saja tak cukup membuat lega. Tak mengapa, menangis saja, menangis sampai dirimu merasa sesak oleh air mata itu. menangis saja, biarkan rasa sedihmu keluar mengalir bersama air mata.

Putus cinta bukan sekedar berpisah lalu selesai. Satu sisi terkadang memiliki pengharapan yang lebih. Dan sisi itu yang mengalami luka paling dalam. Mereka bilang tak ada trauma cinta, karena mereka tak pernah merasakan pahitnya kegagalan. Yang cuma bisa berkata, belum tentu bisa menjalani. Tak mengapa, wajar jika kamu mengalaminya. Tak ada yang bisa menyalahkanmu.

Kamu sungguh mengetahui batasan dari dirimu. Dirimu mulai bisa menerima keadaan, memfokuskan diri pada hal lain bagimu adalah pilihan yang cukup bijak. Bukan sekedar menjalani hari-hari seperti biasa. Bekerja atau menyelesaikan studi menjadi prioritas utamamu. Kamu tak lagi terusik dengan pendapat orang lain. Kamu memang layak bangkit sepenuhnya.

Tidak banyak dari kita yang beruntung mendapatkan kisah cinta indah seperti di dongeng. Terkadang kita merasakan sakit dan kecewa yang mendalam. Putus cinta, gagalnya rumah tangga, hingga kehilangan. Seolah bumi dan seisinya tak menghendaki dirimu bahagia. kamu merasa Tuhan tak terlalu baik padamu, lalu kamu terpuruk di jalan yang tak sepatutnya. Untuk kamu yang sedang berputus asa, kamu layak bahagia.

Di matamu, mereka sekedar teman yang asik. Teman yang bisa mendengar keluh kesahmu. Tapi ketika pertemanan itu menunjukkan langkah lebih dekat, kamu mundur perlahan. Kamu tak bisa menerima hal itu. di pikiranmu hanya muncul rasa takut. Kamu takut dikecewakan kembali. Tak mengapa, bukan salahmu.

Ingatlah hati yangpernah terkoyak, Tuhan tak akan memberi kesedihan selamanya. Sebuah pesan dariku yang hatinya terkoyak dua kali, yang membekukan hati sebegitu dalam.