Baccarat Probability_Baccarat Master_Sing baccarat method

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bandar judi utama eropa

Lyfe wRankinRankinRanking of betting forumsg of betting forumsg of betting forumsith Less tercetus dRanking of betting forumsari Ranking of betting forumspengalaman pribadi Cynthia yang sempat memiliki cukup banyak barang menumpuk dan nggak semuanya terpakai. Cynthia lantas mencoba memilah dan mulai mengeliminasi barang yang nggak terpakai untuk dijual kembali sebagai produk preloved di salah satu platform online.

Menurut Cynthia, nggak apa kok kalau kamu nggak selalu mengikuti tren produk kecantikan atau fesyen yang sedang digandrungi. Nggak usah takut untuk hidup secukupnya. Cynthia juga memberi pesan bahwa meski awalnya retail therapy terasa menyenangkan, tapi rasa puasnya nggak bakalan langgeng, sementara produk yang sudah kita beli harus kita pertanggungjawabkan.

Begitu juga untuk produk fesyen. Cynthia mengungkapkan bahwa sebenarnya kamu nggak perlu mengosongkan isi lemarimu serta merta dalam satu waktu kok. Kamu bisa mulai menggunakan konsep one in one out saat membeli pakaian. Jadi, kamu bisa membeli satu pakaian baru dan mengeluarkan pakaian lamamu yang sudah sempit atau rusak. Tapi mentang-mentang kepengin banget sama baju A, bukan berarti ‘tinggal mengeluarkan baju di lemari’ bisa jadi alasan lo.

Berbekal dari pengalaman serupa, seorang pegiat minimalist living, Cynthia S Lestari akhirnya tergerak membangun komunitas minimalist living melalui akun Instagram Lyfe with Less. Nggak cuma itu, Lyfe with Less juga kerap menyentil soal pemakaian produk fesyen dan kecantikan yang terlalu berlebihan. Lebih lengkapnya, simak yuk rangkuman obrolan Hipwee sama Cynthia, sang pendiri Lyfe with Less berikut ini!

Selain itu, ada pula kampanye #BijakBerkonsumsi yang mengajak kita untuk benar-benar mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli suatu produk. Gerakan ini memberikan banyak manfaat, di antaranya bisa menekan pengeluaran impulsif dan lebih bijak saat hendak memutuskan untuk membeli suatu produk. Belanja karena butuh? Yes! Belanja karena lapar mata dan digoda diskon? No~

Yuk lebih bijak dalam membeli produk kecantikan dan fesyen, supaya kamu nggak terlena dan malah terjebak dalam gaya hidup konsumerisme, yang nggak cuma bisa berdampak pada kesehatan mental dan finansialmu tapi juga berefek buruk pada bumi kita. Buat yang tertarik menjelajah lebih jauh seputar minimalist living, kamu bisa kepoin tulisan Cynthia dan timnya di Instagram @lyfewithless dan website Lyfe with Less ya!

Sejarah berdirinya Lyfe with Less | Credit via Website Lyfe with Less

Langkah-langkah yang bisa dilakukan | Credit via Instagram @lyfewithless

Ternyata selain membuat kamar kosnya menjadi lebih lapang dan tertata, ia juga masih bisa mendapatkan uang yang lumayan sebagai hasil penjualan barang preloved-nya. Tak hanya itu, setelah melakukan aksi decluttering tersebut, ia merasa jadi lebih enteng dan tenang. Ia jadi tertarik untuk membagikan pengalamannya dalam bentuk jurnal di Instagram seputar memilah barang dan mulai menjalani gaya hidup yang lebih minimalis.

Sebagian besar cewek mungkin pernah ya mengalami keresahan yang sama? Belum selesai pakai produk A, stok lagi produk B, C dan D. Padahal sebenarnya kita belum tentu butuh-butuh amat, tapi kamu tetap membelinya karena godaan diskon. Kamu tahu nggak sih, kalau menumpuk terlalu banyak barang bisa jadi masalah di kemudian hari? Duit amblas, ruang tempat tinggalmu juga jadi semakin sesak.

Gerakan ini bisa kamu terapkan untuk produk skincare dan makeup lo, yaitu dengan cara menggunting produk menjadi dua bagian supaya penggunaannya lebih maksimal. Hayo, seberapa sering kamu menyia-nyiakan produk kamu yang sebenarnya masih sisa sedikit di dalam kemasannya?

Menurut Cynthia, langkah pertama yang bisa dilakukan untuk menerapkan minimalist living yaitu mencoba untuk memakai produk yang kamu beli sampai habis, semaksimal mungkin. Ini hal yang paling mudah dan murah, yang bisa kamu lakukan sekarang. Misal, kamu membeli beberapa produk kecantikan, usahakan untuk menggunakannya sampai habis, baru kamu bisa membelinya kembali. Dengan begitu, kamu jadi tahu mana produk yang cocok dan kurang cocok. Kalau ternyata kurang cocok dan isi produk masih banyak, kamu bisa menjualnya dengan catatan produk tersebut dalam kondisi layak (atau malah belum terpakai).

Sebagai komunitas yang ingin berbagi pengalaman dan manfaat dari gaya hidup minimalis, Lyfe with Less memiliki beberapa kampanye menarik yang disampaikan melalui media sosial Instagram. Salah satu kampanye yang gencar digaungkan adalah #PakaiSampaiHabis yang berisi sebuah ajakan untuk menggunakan produk yang kita pakai sampai benar-benar habis.

Yang pasti kamu harus tetap memikirkan masak-masak, setiap barang yang kamu beli karena tanggung jawabmu penuh sama barang tersebut sampai nanti nggak bisa terpakai lagi. Selain membuat tempat tinggal lebih lapang, menurut Cynthia kebiasaan memilah barang ini bisa membantunya berpikir lebih jernih dan terlatih dalam memilah-milah perasaan lo.

Pandemi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam membuat program yang bisa memperluas jangkauannya dalam mengenalkan gaya hidup minimalis. Ia juga sedang mengembangkan timnya supaya bisa membuat program-program yang relate dan tetap dekat dengan komunitasnya. Selain itu, ada dua tokoh influencer yang juga menjadi inspirasinya dalam membangun komunitas ini, yaitu The Minimalist yang membagikan banyak hal seputar gaya hidup minimalis melalui buku dan media sosial mereka.

Minimalist living itu juga sebenarnya bukan hal yang mahal atau rumit. Bukan juga soal pelit, tapi lebih ke soal pembatasam produk yang kita gunakan. Bukan pula soal semata-mata ‘hanya menggunakan produk eco-friendly’ saja tapi lebih ke soal pemakaian secukupnya, nggak berlebihan. Jadi beda ya sama pelit, yang bisa saja beli stok barang diskonan, minimalist living itu soal membeli barang berkualitas dengan jumlah cukup.

Duh, baju ini disimpan di mana lagi, ya? Lemariku udah penuh banget