Live Baccarat Registration_Gaming Forum_Football Handicap Knowledge_online roulette_Baccarat APP

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bandar judi utama eropa

SHandicap gamblingemeHandicap gamblingnjHanHandicap gamblingdicap gamblingak itu, aku dan Desi tak pernah melihatnya lagi di kampus. Beberapa teman seangkatannya memberitahu kami bahwa Bagus sudah pindah ke luar negeri.

Handicap gambling"Maaf, mungkin hubungan kita ini hanya sekedar sahabat dekat saja, tak lebih dari itu. Sekali lagi maaf, jika aku tidak bisa membalas cintamu. Terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini," ucapku sedikit kelu.

"Apakah kau masih ingat dengan Bagus?" tanya istriku di malam pertama, di hari kedua pernikahan kami. Tak sempat kami melangsungkan malam pertama di hari pertama setelah resepsi yang melelahkan.

Malam pertama kami tertunda kembali. Kali ini kami malah bernostalgia ke masa-masa kuliah dulu. Bagus adalah sahabatku, dia adalah seniorku. Kami berkenalan saat OSPEK.

"Sekalipun aku amat mencintaimu, tetapi aku tidak bisa memaksakan dirimu untuk mencintaiku juga. Aku hanya ingin melihatmu bahagia."

"Kau masih ingat dia, kan?" tanya Desi membuyarkan lamunanku.

"Iya, mantanmu." Balas istriku dengan memasang wacah kecut.

Saat hari terakhir OSPEK angkatannya, Bagus tak bisa ikut karena demam tinggi dan terpaksa dia harus dibawa ke rumah sakit. Bagus akhirnya harus mengulang kembali OSPEK-nya. Di kampus kami, OSPEK adalah salah satu syarat dari kelulusan. Jangan sampai nanti dipermasalahkan dan tak jadi diwisuda.

Beberapa tahun kemudian. Aku yakin bahwa Desi adalah orang yang open minded, ku beritahu perihal hubunganku dengan Bagus setelah kami diwisuda. Dia sedikit terkejut, tetapi bersikap sewajarnya.

"Apa Bagus menyukaimu juga?" tanyaku pada Desi.

"Aku lelah harus terus-menerus berbohong pada Desi," ucapku. Bagus mulai melepaskan diri dari pelukanku. Dia mengusap kedua pipinya yang basah oleh air mata.

"Suatu hari, aku memergoki Bagus menangis di kamarya kosnya. Dia menangis sembari menatap fotoku. Aku kaget setengah mati. Aku menghampirinya, dan aku tanyakan langsung kepadanya."

Asal kau tahu, ciuman pertamaku bukan dilakukan kepada seorang wanita tetapi pada Bagus. Ciuman itulah yang membuatku depresi, sekaligus marah. Ku suruh dia untuk mencarikanku seorang wanita untuk ku pacari. Dia mengiyakan, sekalipun ku lihat matanya berkaca-kaca.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

"Mantanku dulu?" ucapku ragu-ragu.

Sebelum aku mengenal Desi, sebenarnya aku sudah menjalin sebuah hubungan 'aneh' dengan Bagus. Dia sungguh tampan dan entah kenapa, aku merasa percaya diri jika berjalan bersamanya. Aku pun sering meminjam uang padanya. Bagus tak pernah mempersoalkan hal tersebut, sekalipun aku selalu telat membayarnya.

Awalnya, Desi ku anggap sebagi sahabatku juga, namun perlahan bersemi menjadi cinta. Akhirnya kami berpacaran dan itu membuat Bagus kesal. Saat akan kami tanyakan alasannya, dia terus menghindari kami.

"Bagus tak berkata apa-apa, air mata terus mengalir dari kedua matanya yang sipit. Ku peluk dia untuk menenangkannya, tetapi Bagus malah menangis semakin menjadi."

"Sepertinya tidak, perasaan wanita sangat peka ketika ada seseorang yang menyukainya. Aku tidak merasa bahwa Bagus menyukaiku."

"Kenapa kau mau melakukan semua itu?" tanyaku padanya.

Ku lihat Desi tampak kesal, dia sedang bersiap-siap untuk tidur dan mulai menyelimuti dirinya. Segera kupeluk dia, dan ku ciumi pipinya. Kami tertawa dan mulai bergumul satu sama lain, melupakan sejenak kenangan Bagus yang sempat singgah di malam pertama kami.

"Apa kau masih menyukaiku?"

"Lantas apa?" tanyaku.

Seperti namanya, dia tampan, berkepribadian baik dan terlalu sopan untuk ukuran seorang pria. Dia jugalah yang mengenalkanku dengan Desi, istriku saat ini. Mereka berdua satu komunitas pencinta film indie. Kami bertiga selalu pergi bersama-sama, kecuali untuk urusan kamar mandi.

"Toh itu masa lalu, sekarang jalani saja apa yang ada." Desi berkata dengan santainya, tetapi masih ku ingat dengan jelas bahwa matanya berkata lain. Matanya terlihat berkaca-kaca, seakan sedang menahan luapan emosi. Hal tersebut membuatku teringat kembali dengan Bagus yang dulu pernah kusakiti.

"Bagaimana dengan malam pertama kita?" tanyaku saat ini.