Baccarat Probability_Baccarat betting method_Football odds

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bandar judi utama eropa

OOnline casino gamesNline casino gamesnOnline casino gamesasib mujur masih berpihak pada Andini. Tak sampai bernasib nahas seperti Rudi dan temannya, Andini sadar adanya kejanggalan di tengah obrolan dengan pelaku penipuan meskipun awalnya sempat yakin.

Walaupun sudah melaporkan ke pihak kepolisian, penipuan yang menimpa keduanya tak bisa diusut. Soalnya, sesuai kronologi kejadian, korban dinyatakan dengan sukarela memberikan data pribadinya ke pelaku. Uang simpanan teman Rudi pun tetap melayang.

Awalnya bisa kena penipuan online | Photo by Mohamed Hassan on PxHere

Pelaku penipuan online minta data pribadi korban | Credit: Wikimedia

Jadi, penipuan bukan cuma soal korban yang gampang dikelabuhi aja ternyata. Pelaku pun punya siasat jitu untuk menggaet korban. Kendati demikian, selalu hati-hati ketika ada pihak-pihak asing yang meminta identitas dan data pribadi ya, SoHip. Jangan dibagikan sembarangan.

Panggilan tak terduga itu akhirnya berlanjut cukup panjang. Setelah mendengarkan penjelasan si penelpon, Rudi baru tahu kalau dirinya penerima hadiah dari sebuah perusahaan aplikasi perbankan digital. Mendengar kabar itu, Rudi tentu senang. Meskipun sempat ragu, perlahan Rudi mulai percaya. Apalagi, ia ingat beberapa hari lalu menuliskan komentar di akun Instagram perusahaan tersebut. Oh, mungkin gara-gara itu, pikir Rudi.

“Halo. Selamat siang, Bapak Rudi. Saya Amanda dari….” jawab sang penelpon.

Ternyata, penipuan online semacam phising (penipuan lewat telepon) tidak bisa diremehkan lo. Melalui penuturan para korban, cara pelaku melancarkan aksinya memang tak sembarangan. Singkatnya, pelaku memakai siasat yang bikin calon korban yang ragu-ragu berubah jadi yakin.

Komunikasi terus berlanjut, Rudi diminta untuk mengaktifkan lagi akunnya di sebuah aplikasi perbankan digital.  Untuk mengaktifkanya, Rudi harus pakai akun teman yang masih aktif. Akhirnya, ia meminta bantuan seorang rekan kerja yang ada dalam satu ruangan.

Menurutnya, memakai nama perusahaan yang punya kredibilitas jadi trik pelaku penipuan. Satu hal yang paling dirasakan oleh Andini adalah gaya bicara pelaku. Sejak telepon penipuan itu diangkat, pelaku sama sekali tidak memberi jeda yang cukup lama dalam setiap kalimatnya. Sehingga, mau nggak mau korban terus mendengarkan. Bahkan, korban seolah tak punya waktu untuk berpikir dulu.

Setelah berbincang banyak hal sekaligus menyakinkan diri, Rudi sampai pada titik keyakinan bahwa telepon tersebut memang benar. Dugaan soal penipuan hilang seketika. Ia mulai mengikuti arahan si penelepon. Saat itulah Rudi mulai masuk dalam jebakan pelaku voice phishing.

Bak petir di siang yang cerah, seluruh tabungan teman Rudi tak bersisa lagi. Semua uang lenyap. Rudi dan temannya langsung panik dan bingung setelah sadar  bahwa mereka telah menjadi korban penipuan.

SoHip, coba deh cek isi kotak pesan di telepon pintar kamu! Ada orang asli atau hampir semua nomor yang masuk nggak dikenal dan mengirim pesan aneh?

“Selamat Anda beruntung mendapatkan hadiah senilai 100 juta rupiah…”

Singkatnya, pelaku penipuan meminta nomor rekening, e-mail, dan nomor ponsel. Tanpa berpikir panjang, apalagi masih disibukkan dengan pekerjaan, teman Rudi menyanggupi. Ia memberikan data yang diminta dan mengirimkannya ke nomor pelaku. Sampai saat itu, baik Rudi maupun temannya nggak curiga sama sekali. Sampai akhirnya, teman Rudi membuka aplikasi tabungan digitalnya.

Lantaran nggak tahu jawabannya, mulai gagap, dan berbelit-belit, pelaku justru menyudahi telepon, meski ia tetap menghubungi lagi beberapa jam kemudian. Pelaku beralasan ingin menanyakan soal notifikasi via e-mail ke atasannya dulu. Andini sendiri sudah nggak percaya. Ia yakin sepenuhnya kalalu si penelepon adalah pelaku penipuan.

“Semua serba cepat (bicaranya). Aku cuma bisa iya-iya aja pas ditanya. Kayak nggak ada waktu buat mikir,” tutur Andini.

Panggilan itu pun berhenti karena diabaikan. Namun, nggak berselang lama, ponsel itu kembali berbunyi oleh panggilan dari nomor tak dikenal tadi. Didorong oleh rasa penasaran, ia pun mengangkat telepon.

Andini nggak menampik kalau ia ragu pada mulanya. Tapi, keraguan itu sirna karena semakin lama si pelaku semakin menyakinkan. Apalagi, gaya dan nada bicaranya seperti pekerja sungguhan. Namun, di tengah pembicaraan saat Andini nyaris memberikan data pribadi, pelaku membuat kesalahan. Di titik itu, Andini sadar kalau panggilan tersebut adalah voice phishing.

Sadar ditipu sebelum memberikan data pribadi | Photo by Mohamed Hassan on PxHere

Selain itu, menggunakan nama perusahaan tenar juga jadi siasat untuk menjerat korban. Tak heran, bila perusahaan perbankan ternama sering dijadikan ‘tameng’ buat para pelaku penipuan. Apalagi, bila proses transaksi perbankan tersebut cukup gampang. Alhasil, penipuan makin mulus dijalankan.

Dari penuturan Andini, sebenarnya perilaku penipuan online terutama voice phishing bisa dipetakan. Rata-rata penipu yang ulung mempunyai kemampuan sosial engineering. Istilah untuk kemampuan membangun percakapan dan pandai membaca kondisi korban secara psikologis. Bahkan, pelaku sudah bisa menyadari bila calon korban tertarik atau tidak dengannya. Ketika korban sudah masuk perangkap dan mulai ragu, pelaku akan memainkan kata-kata agar korban kembali percaya.

Sadar kalau korbannya mulai curiga, pelaku ternyata semakin mendesak. Andini merasa nada bicara pelaku semakin cepat dengan jeda yang singkat. Efeknya, ia semakin sulit untuk berpikir jernih. Beruntungnya, Andini bisa menguasai diri dan bisa mengajukan banyak pertanyaan kritis untuk memastikan kebenarannya. Bahkan, ia sampai mempertanyakan mengapa si penelpon nggak tahu soal notifikasi transaksi melalui e-mail.

“Sulit untuk nggak percaya, ya. Waktu itu nomor yang menelepon adalah nomor telepon kabel, bukan nomor ponsel biasa. Tulisannya pun panggilan dari sebuah bank besar di Indonesia,” terang Andini.

Begitulah kira-kira isi pesannya. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa mereka akan mampu mendeteksi apakah pesan yang diterimanya merupakan penipuan atau sungguhan. Pasalnya, biasanya model dan modus yang digunakan serupa. Makanya, banyak yang mungkin berpikir ‘Kok masih ada aja korban-korban yang berjatuhan, ya?’ saat melihat realita.

Cara pelaku penipu memperdaya korbannya | Illustration by Hipwee

Harap beli akses artikel ini atau berlangganan   untuk melanjutkan

Seperti hari-hari biasa, Rudi sibuk dengan tumpukan pekerjaan. Sebagai salah satu Public Relation di sebuah perusahaan, Rudi sudah bekerja hampir dua tahun lamanya. Konsentrasinya yang sedang tertuju ke layar komputer teralihkan saat ponselnya berdering. Nomor tak dikenal, pikir Rudi.

“Halo,” ucap Rudi.

“Gara-gara aku nyebut kalau menerima pemberitahuan semua transaksi bank lewat e-mail. Anehnya, si pelaku malah tanya balik ‘Kok pakai e-mail?’. Dari situ aku mikir, masa sih pegawai bank nggak tahu kalau pemberitahuan kayak gitu bisa lewat e-mail. Aku udah mulai curiga tuh,” kata Andini mengingat-ingat kejadian tersebut.

Dulu, kita mungkin familier dengan pesan berisi kalimat ‘mama minta pulsa’ yang pernah heboh pada masanya dan nggak sedikit memakan korban. Nah, seiring bertambahnya waktu, akal orang untuk menipu pun makin lihai. Mulai dari menawarkan pinjaman online sampai memperdaya calon korban dengan iming-iming hadiah karena berhasil menang undian, semua dilancarkan.